Sumur Gumuling Taman Sari Jogja [Masjid Bawah Tanah]

Untuk bisa masuk ke sumur gumuling, kita harus menyerahkan tiket pada petugas. Setelah disobek, sisa tiket dikembalikan lagi kepada kita.

Pintu masuk ke sumur gumuling




Penjaga tiket

Kami berjalan menyusuri tangga menuju area bawah tanah. Tidak ada rasa sumpek dan lembab, yang ada malah hawa sejuk.



Ada ventilasi di langit-langit

Sampailah kami di ruangan berbentuk lingkaran. Sebetulnya kepingin langsung menuju ke 5 tangga yang ikonik itu, tapi pak Saleko mengajak kami ke arah kiri.

Udah semangat mau kesitu, lihat tangga, eee..diajak ke kiri

"Ini adalah tempat imam sholat," ia menunjuk sebuah ruangan menjorok. Lalu pak Saleko bertepuk tangan. Dan muncul suara gema!

Ruangan imam di lantai bawah.
Di lantai atas juga ada

Wow. Kami takjub dengan kecerdasan arsitek jaman dulu. Gak usah pake sound system udah kedengeran oleh satu ruangan suara imamnya.

"Pak, ini (sholat) jamaahnya gimana?" Saya bertanya ke pak Saleko karena selasar tempat jamaah ini tidak terlalu luas.

"Sholatnya melingkar, Mbak. Jaman dulu kan modelnya kejawen," jelas pak Saleko.

Kejawen adalah aliran kepercayaan orang Jawa, dimana tradisi Islam masih bercampur dengan tradisi Hindu.


Lorong di lantai bawah

Dan kamipun akhirnya melongok ke tangga unik di bagian tengah bangunan.

Meski namanya "sumur", namun di dalam tidak ada lobang ke perut bumi layaknya sumur pada umumnya. (Katanya di bawah tangga ada mata airnya. Tapi saya tidak memperhatikan)

Gak sumur ataupun mata air di bawah tangga

4 tangga+1tangga menunju lantai 2

"9 anak tangga ini sebagai simbol walisanga (wali sembilan). Sedangkan 5 buah tangga menunjukkan rukun islam," kata pak Saleko.

8 buah lubang di bagian atas tangga ini juga ada maknanya. Tapi saya lupa apa artinya 😅

Saya kemudian menaiki anak tangga, menuju ke lantai atas. Model bagian atas ini mirip dengan di bawah. Hanya saja di sepanjang dinding ada jendela, kalau di lantai bawah kan full tembok.

Hal inilah yang menyebabkan gema di lantai atas tidak sejelas gema di lantai bawah.


Lantai 2

Jendela sejajar dengan rumah penduduk

Tempat imam di lantai atas

Sebuah ruangan gelap gulita menarik perhatian saya. "Ini apa, Pak?"

"Toilet, Mbak," jawab pak Saleko.

Saya pun menyalakan blitz HP dan melongok ke dalam.

"Kok gak ada lubangnya, Pak?" Lubang WC maksud saya.

"Sudah ditutup, Mbak. Soalnya kalo tidak nanti keluar hewannya," jelasnya.

Toilet jaman dulu.
Aslinya gelap banget. Bisa jelas gini karena saya pake blitz

Lubang WC sudah ditutup. Yang menonjol itu tempat pijakan kaki buat jongkok

Puas berkeliling, saya pun turun. (Dan melewati mbak cantik yang tengah pose dengan gaun hitam menjuntai. Entah foto untuk pre-wedding atau apa).

Suasana di sumur gumuling ini menentramkan. Tenang, sejuk. Memang pas untuk sembahyang.

Seperti ini penampakan tembok sumur gumuling dari dekat. Pembuatannya tanpa semen.

Setelah keluar dari sumur, tujuan selanjutnya adalah ke kamar peristirahatan. Letaknya dekat sekali dengan sumur gumuling.

Tapi bangunannya sudah tidak berbentuk. Atapnya tidak ada. Hanya ada ruangan terbuka dengan jendela kotak-kotak besar.

Salah satu sudut pagar bangunan

Kata bapak yang ada disitu, dulunya bangunan ini 2 tingkat. Ia menunjuk ke atas dan mengatakan bahwa dulu alasnya kayu. Tapi sekarang sudah hilang. Atap juga roboh karena gempa.

Dan saya tetap tidak bisa membayangkan seperti apa bangunan yang dimaksud. Kalo tingkat, dimana tangganya? Trus, kamarnya yang mana? Kamar mandinya dimana?

Karena terburu waktu (jam 14.35 wib ada jadwal nonton End Game di Hartono Mall), akhirnya gak sempat deh nanya-nanya detail ke pak Saleko.

Kami pun menuju parkiran diantar pak Saleko.

Tempat parkir kami di dekat tempat pengolahan air.
Salah parkir, biasanya ini area parkir untuk yang mau ke pasar.

Setelah kasak kusuk dengan suami, akhirnya fee sebanyak Rp 50.000 diberikan pada beliau.

Menurut saya sih sebaiknya ada tarif resmi ya. Soal mau ditambahi ntar urusan masing-masing pengunjung. Tapi kalo ada tarifnya pasti lebih banyak yang berani pakai jasa guide.

Asyik deh kalau berkeliling sambil ada yang memandu. Ciyus.

Jogja, 24 April 2019



Tidak ada komentar:

Posting Komentar